WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)

Posted in Uncategorized on January 26, 2009 by blognyasetan

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009
michealheart. com

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
——————————-

Hasta La Victoria Siempre  COMMRADES!!!!

Posted in Uncategorized on January 13, 2009 by blognyasetan

Remuk

April 16th, 2006 by maqddog203

Kabut menerpa bumi
Selimuti langkah tak pasti
Diam dan buta namun tak mati
Berjalan di tengah hari nan sepi

Pedang terhunus patah dan remuk
Menebas angin mengiris jiwa
Peluh mengering dalam kehampaan
Ketika cahaya merekah merah membara

Degup jantungpun keras menghentak
Kilat menyambar dan jiwa menghilang
Waktu terhenti dan bibir terkunci
Diam membeku namun tak mati

Posted in Uncategorized on January 13, 2009 by blognyasetan

Maaf…

Maaf…

Bila engkau izinkan,

Maka aku kan bercerita…

Bacalah bila kau ingin….

Atau lupakanlah bila engkau terlalu muak tuk membaca…

Karena ini terlalu gelap…

Segelap malam hari tanpa cahaya…

Terlalu pedih…

Sepedih luka yang menganga ditengah tetesan air hujan…

Maafkanlah…

Maafkan karena saya…kan bercerita

Cerita tentang seorang Pak Tua yang berdiri letih dengan
pedang yang retak, dalam guyuran hujan tawa akan sensasi dari darah yang
tertumpah, sebauh sensasi hawa kematian yang tersebar oleh angin omong kosong belaka
yang gelap dalam kemunafikan, menyelimuti kenyataan, dan semuanya hanya menjadi
bahan lelucon belaka.

Tentang seorang wanita letih yang hidup dalam kehilangan
yang pedih, dan jemarinya mencengkram keras dan luar biasa bagai laba-laba.
Melindungi namun menyakiti

tentang seorang pelawak hina ketika ia memutuskan untuk
lari jauh…pudar dan menghilang. lalu dalam kesunyiannya ia merintih ditengah keputusasaan. ketika mereka berteriak dengan arogan menutupi kebusukan dalam topeng-topeng keceriaan.

Lalu berkatalah mereka dalam sebuah sangkar,dimana mangsapun
sekarat menuju ajal, berkata mereka dengan bangga:  “Inilah kenyataan…sebuah
kenyataan yang kami bangun diatas pundi-pundi emas dan air mata, keringat, dan
darah orang-orang tolol! Inilah seleksi alam yang sesungguhnya yang telah
berjuta-juta tahun terjadi”

Termenung sang pelawak hina dalam kesendiriannya, rasakan ia seluruh energi hidup yang memudar, dan
bayangan yang ada akan harapan hanya sisakan air mata dari luka yang membusuk.

Namun lama sebuah keceriaan bertahan dalam kehancuran, dan
perlahan ia memudar dan menghilang tanpa mengetahui apa yang terjadi, dan harapannya pun berangsur

sirna ditengah gelapnya hari… sebelum akhirnya menghilang…musnah

Memaksa tersenyum sang bidadari dalam kepedihan yang datang menghantui.

Lalu dimanakah mentari ketika malam menjelang?

Dimanakah cinta
ketika badai menghadang?

Oh…dinginnya malam ini, dan bintang pun terlelap dalam hampa,

waktu seolah berhenti…..berhenti dalam hujan deras dan kilat yang
menyambar-nyambar.

Lalu sayup terdengar nyanyian lirih seekor burung api ketika
bahtera hancur menghantam karang,tenggelam dalam sebuah nyanyian iblis lautan.

Dan lolongan srigala dimalam tanpa purnama itu…membuka mata
sang pendosa, ketika ia melihat hancurnya sang bocah lugu dalam kepingan, dan
remuk menjadi debu.

Namun berusaha tetap terlihat tegar. Sementara bayangan yang
mencengkramnya,menghantui setiap langkahnya. Dan bersumpahlah sang bocah bahwa
surga bukan lah untuknya.

Termenung sang pendosa, bertanya ia dalam hampa, masihkah
akan esok menjelang? Atau terlelap dalam bisa ular yang kejam meleburkan jiwa?
Rasa muak semakin sesakkan dada ketika sang pendongeng bercerita tentang
kenyataan dalam hidup nan gelap…

Oh….apakah? dan pintu kayu nan usang pun terbuka.

PERGI!
PERGI!

Tinggalkan aku!

Tinggalkan aku dalam duniaku yang penuh liku,

dunia yang takkan pernah kau mengerti! Dunia yang telah lama menjadi rumahku, meski gelap
gulita, hina dina namun itulah rumahku! Rumah yang samasekali tiada layak untuk
mu! Sisakan lah aku satu tempat untuk bernafas meski itu sempit,  sepi dan
sunyi, tetaplah itu duniaku! Dan janganlah engkau bawakan api yang akan
membakarnya menjadi abu, dimana engkau berdalih bahwa itu hanyalah seberkas
cahaya lilin penerang yang akan membawaku menuju cahaya.

Pergi! Bawa lah
cahayamu pergi! Biarkan lah ku temukan cahayaku sendiri!

Kurasakan cintannya yang pedih, namun ia akan menjadi
cahayaku….Tuhan jangan lah engkau pisahkan kami..tidak hari ini..hari dimana jalanku
masih terlalu kejam dan penuh duri dan kerikil tajam. Tangis penyesalan tiada
guna,karna aku bukanlah yang engkau harapkan.

Namun bila Tuhan izinkan, maka aku kan

menjadi piala keberhasilanmu. dan bila restu tiada kau beri maka niscaya aku

kan menjadi abu.

Lalu ceritapun berganti. Kini tentang seorang pertapa yang
akhirnya menemukan kebahagiaan dalam keruntuhan idealismenya, sesaat menganggap
itu sebuah dilemma. Namun siapa dapat mengenyangkan perut hanya dengan sebuah
idealisme belaka? Bukan kah ketika ia menjual jiwannya ia akan dapatkan semua
yang ia impikan? Dan banggalah ia dengan jalan pintas itu.

Lalu ketika sang pelawak hina berjalan, kembali ia melihat
perahu yang karam. Karam perahu itu oleh nafsu sang iblis penggoda, sisakan
kehancuran dalam diri seorang dara, sisakan sebuah angkara membara dalam serpihan diri meluluhkan
sanubari seorang anak manusia.

Lama sang pendosa termenung. Dibelakangnya berdiri pak
tua dengan pedang retaknya, menatapnya dengan amarah, benci ia kepadanya.

Ingin ia menebasnya. Namun kebenciannya kepada dunia lebih membara dan mendalam.

Kebencian pada sebuah dunia yang menempanya dengan keras sehingga membuat
jiwanya yang membaja hancur sisahan pedang retak ditangannya.

“Matilah engkau sang pendosa! Biarkan lah aku tertawa dalam
derita, tertawa dalam nerakaku yang sunyi! Karena engkau begitu kejam pada kami semua,
tak peduli aku akan alasan mu,  karena percayalah DEMI BADAI yang aku terseret didalamnya didalamnya AKU PERNAH ALAMI ITU SEMUA!”

Namun duniamu bukanlah dunia ku,wahai  Pak Tua.

Pedih yang kau rasakan hanyalah pedihmu, namun pedih ku adalah pedih mu,
pedihnya, pedih mereka dan akhirnya pedihku sendiri…

Lalu siapa yang bersalah? Ah sudahlah biarlah aku kambali
kedalam sangkar gelapku, tempat aku berdiam diri dan menyendiri dalam
sunyi. Janganlah kalian buka pintu itu lagi, kumohon. Biarkanlah ia rapat
tertutup ,biarlah seperti dulu, dimana semuanya terlelap dalam sepi.

Dan ketika ia menoleh keatas, ketika semua cahaya semu
berkelip, membius mereka dalam akhir tahun yang mati, dan menjebak mereka dalam
kegembiraan sesaat, maka sujudlah ia di hadapan Tuhannya.

Sujud mengenang semua dosa-dosanya, dosa akan hati yang ia remukkan
dan jiwa yang ia renggut. Dan ketika buku kehidupannya pun tertutup dan kembali
ia di hadapan Sang Pencipta, dan bertanya ia dengan lirih…

Akankah Sang Pencipta  menjauh, menjauh karena jiwanya  terlambat
tuk diselamatkan, karena jiwanya sudah terlanjur teracuni oleh kelammya dunia.

Dan malam gelap pun kembali pekat, berjalan ia kembali dalam sunyi
dengan tertatih ia langkahkan kaki…menembus tirai ilusi
meski terkadang ia terjatuh lagi dan lagi… tanpa cahaya…
namun hatinya tahu bahwa cahaya itu ada..dan memaksa ia tuk merangkak…
meski terjatuh lagi…dan pada akhirnya ia harus merayap…
namun ia bersumpah tak kan berhenti hingga ajal menghampiri….

Posted in Uncategorized on January 13, 2009 by blognyasetan

Semu

August 8th, 2007 by maqddog203

Termangu bayangkan cinta…
Terdiam dalam mimpi berwarna…
Dan berlari lalu terbang dalam angan…

Namun udara tipis sesakan kita….
Dan tiada bodoh ku berfikir…
Kan hidup tanpamu slamanya…

Tiada datang jauh tuk menyerah…
Tiada bartahan tuk lalu pergi…
Jika tiada kata maaf dalam hidup…
Karena semua kata telah pergi…

Mengingat kesamaan bukan perbedaan…
dan persamaan lebih dari kesamaan…
Dua Jiwa saling memiliki slamanya….

Namun ruang terlalu sempit…
Merobek diri lalu hancur berkeping…
Hasrat Ingin lebih dari harapan….
Menggenggam erat cadas nan rapuh…

Dan meronta dalam kepedihan…
Tenggelam dalam impian semu…
Memuji akan keindahan mu…
Dan berharap akan kewarasanku….

Meskipun hanya pedih yang tersisa…
Harap cinta tiada pudar selamanya…
dan bersimpuh tuk memohon…
Tiada pudar tuk selamanya…

Adalah kebebasan tuk dapatkan bintang….
dan berikan cahayanya pada jiwa yang murni…
murni dibalik darah dan tulang yang fana…

Membenci ketika cinta bersemi…
Membenci karena tidak dapat mencintai diri…
Sekarang memohon akan sebuah harapan…
Tuk kembali utuh dari sebuah kehancuran…

Termangu bayangkan cinta…
Terlelap dalam mimpi berwarna…
Dan coba tuk menulis kata-kata…

Cahya pun menghilang perlahan….
Dan mata tertutup di kegelapan….
Seolah tanpa harapan ditemani kesepian…

Dan satu kata terakhir terucap sebelum fajar menjelang…
Harap cinta tiada pudar selamanya…
dan memohon untuk terakhir…
Tiada pudar tuk selamanya…

Posted in Uncategorized on January 12, 2009 by blognyasetan

Berlari jauh tiada henti

Mencari keadilan hakiki

Mabuk dalam khayal Musnahkan asa

Mencinta dalam nista

Dalam luka dalam hampa

Terlelap oleh angan

Mega menyapu mentari

Ciptakan gelap nan sepi

Akhiri kehangatan

Yang membelai jiwa fana ini

Lalu tercipta kesunyian

Tangis dari pengkhianatan

Dalam lolongan Iblis malam

Yang mengais bangkai tersisa

Dan sayap-sayap kembali

Bawa berita tragedi

Harapan hangus dalam bara

Dan cinta, adalah pedih

Hancurkan jiwa dan membunuh nurani

Menghitam kelam dalam dinginnya logam

MUAK AKHIRI KEHIDUPAN…

Namun Tak kuasa hadapi kematian

Dan kembali bertanya dalam kegetiran

DEMI ENGKAU ?…

SIAPA ENGKAU ?…

SIAPA AKU ?…

SIAPA KALIAN ?…

Dan melihat jiwa-jiwa yang mati

Dan mereka tertawa dibalik gelapnya hari

Tangan ini yang lelah

Meraih pedang yang patah

Tertatih dan merangkak

Menyeret langkah demi cahaya

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.