Maaf…

Maaf…

Bila engkau izinkan,

Maka aku kan bercerita…

Bacalah bila kau ingin….

Atau lupakanlah bila engkau terlalu muak tuk membaca…

Karena ini terlalu gelap…

Segelap malam hari tanpa cahaya…

Terlalu pedih…

Sepedih luka yang menganga ditengah tetesan air hujan…

Maafkanlah…

Maafkan karena saya…kan bercerita

Cerita tentang seorang Pak Tua yang berdiri letih dengan
pedang yang retak, dalam guyuran hujan tawa akan sensasi dari darah yang
tertumpah, sebauh sensasi hawa kematian yang tersebar oleh angin omong kosong belaka
yang gelap dalam kemunafikan, menyelimuti kenyataan, dan semuanya hanya menjadi
bahan lelucon belaka.

Tentang seorang wanita letih yang hidup dalam kehilangan
yang pedih, dan jemarinya mencengkram keras dan luar biasa bagai laba-laba.
Melindungi namun menyakiti

tentang seorang pelawak hina ketika ia memutuskan untuk
lari jauh…pudar dan menghilang. lalu dalam kesunyiannya ia merintih ditengah keputusasaan. ketika mereka berteriak dengan arogan menutupi kebusukan dalam topeng-topeng keceriaan.

Lalu berkatalah mereka dalam sebuah sangkar,dimana mangsapun
sekarat menuju ajal, berkata mereka dengan bangga:  “Inilah kenyataan…sebuah
kenyataan yang kami bangun diatas pundi-pundi emas dan air mata, keringat, dan
darah orang-orang tolol! Inilah seleksi alam yang sesungguhnya yang telah
berjuta-juta tahun terjadi”

Termenung sang pelawak hina dalam kesendiriannya, rasakan ia seluruh energi hidup yang memudar, dan
bayangan yang ada akan harapan hanya sisakan air mata dari luka yang membusuk.

Namun lama sebuah keceriaan bertahan dalam kehancuran, dan
perlahan ia memudar dan menghilang tanpa mengetahui apa yang terjadi, dan harapannya pun berangsur

sirna ditengah gelapnya hari… sebelum akhirnya menghilang…musnah

Memaksa tersenyum sang bidadari dalam kepedihan yang datang menghantui.

Lalu dimanakah mentari ketika malam menjelang?

Dimanakah cinta
ketika badai menghadang?

Oh…dinginnya malam ini, dan bintang pun terlelap dalam hampa,

waktu seolah berhenti…..berhenti dalam hujan deras dan kilat yang
menyambar-nyambar.

Lalu sayup terdengar nyanyian lirih seekor burung api ketika
bahtera hancur menghantam karang,tenggelam dalam sebuah nyanyian iblis lautan.

Dan lolongan srigala dimalam tanpa purnama itu…membuka mata
sang pendosa, ketika ia melihat hancurnya sang bocah lugu dalam kepingan, dan
remuk menjadi debu.

Namun berusaha tetap terlihat tegar. Sementara bayangan yang
mencengkramnya,menghantui setiap langkahnya. Dan bersumpahlah sang bocah bahwa
surga bukan lah untuknya.

Termenung sang pendosa, bertanya ia dalam hampa, masihkah
akan esok menjelang? Atau terlelap dalam bisa ular yang kejam meleburkan jiwa?
Rasa muak semakin sesakkan dada ketika sang pendongeng bercerita tentang
kenyataan dalam hidup nan gelap…

Oh….apakah? dan pintu kayu nan usang pun terbuka.

PERGI!
PERGI!

Tinggalkan aku!

Tinggalkan aku dalam duniaku yang penuh liku,

dunia yang takkan pernah kau mengerti! Dunia yang telah lama menjadi rumahku, meski gelap
gulita, hina dina namun itulah rumahku! Rumah yang samasekali tiada layak untuk
mu! Sisakan lah aku satu tempat untuk bernafas meski itu sempit,  sepi dan
sunyi, tetaplah itu duniaku! Dan janganlah engkau bawakan api yang akan
membakarnya menjadi abu, dimana engkau berdalih bahwa itu hanyalah seberkas
cahaya lilin penerang yang akan membawaku menuju cahaya.

Pergi! Bawa lah
cahayamu pergi! Biarkan lah ku temukan cahayaku sendiri!

Kurasakan cintannya yang pedih, namun ia akan menjadi
cahayaku….Tuhan jangan lah engkau pisahkan kami..tidak hari ini..hari dimana jalanku
masih terlalu kejam dan penuh duri dan kerikil tajam. Tangis penyesalan tiada
guna,karna aku bukanlah yang engkau harapkan.

Namun bila Tuhan izinkan, maka aku kan

menjadi piala keberhasilanmu. dan bila restu tiada kau beri maka niscaya aku

kan menjadi abu.

Lalu ceritapun berganti. Kini tentang seorang pertapa yang
akhirnya menemukan kebahagiaan dalam keruntuhan idealismenya, sesaat menganggap
itu sebuah dilemma. Namun siapa dapat mengenyangkan perut hanya dengan sebuah
idealisme belaka? Bukan kah ketika ia menjual jiwannya ia akan dapatkan semua
yang ia impikan? Dan banggalah ia dengan jalan pintas itu.

Lalu ketika sang pelawak hina berjalan, kembali ia melihat
perahu yang karam. Karam perahu itu oleh nafsu sang iblis penggoda, sisakan
kehancuran dalam diri seorang dara, sisakan sebuah angkara membara dalam serpihan diri meluluhkan
sanubari seorang anak manusia.

Lama sang pendosa termenung. Dibelakangnya berdiri pak
tua dengan pedang retaknya, menatapnya dengan amarah, benci ia kepadanya.

Ingin ia menebasnya. Namun kebenciannya kepada dunia lebih membara dan mendalam.

Kebencian pada sebuah dunia yang menempanya dengan keras sehingga membuat
jiwanya yang membaja hancur sisahan pedang retak ditangannya.

“Matilah engkau sang pendosa! Biarkan lah aku tertawa dalam
derita, tertawa dalam nerakaku yang sunyi! Karena engkau begitu kejam pada kami semua,
tak peduli aku akan alasan mu,  karena percayalah DEMI BADAI yang aku terseret didalamnya didalamnya AKU PERNAH ALAMI ITU SEMUA!”

Namun duniamu bukanlah dunia ku,wahai  Pak Tua.

Pedih yang kau rasakan hanyalah pedihmu, namun pedih ku adalah pedih mu,
pedihnya, pedih mereka dan akhirnya pedihku sendiri…

Lalu siapa yang bersalah? Ah sudahlah biarlah aku kambali
kedalam sangkar gelapku, tempat aku berdiam diri dan menyendiri dalam
sunyi. Janganlah kalian buka pintu itu lagi, kumohon. Biarkanlah ia rapat
tertutup ,biarlah seperti dulu, dimana semuanya terlelap dalam sepi.

Dan ketika ia menoleh keatas, ketika semua cahaya semu
berkelip, membius mereka dalam akhir tahun yang mati, dan menjebak mereka dalam
kegembiraan sesaat, maka sujudlah ia di hadapan Tuhannya.

Sujud mengenang semua dosa-dosanya, dosa akan hati yang ia remukkan
dan jiwa yang ia renggut. Dan ketika buku kehidupannya pun tertutup dan kembali
ia di hadapan Sang Pencipta, dan bertanya ia dengan lirih…

Akankah Sang Pencipta  menjauh, menjauh karena jiwanya  terlambat
tuk diselamatkan, karena jiwanya sudah terlanjur teracuni oleh kelammya dunia.

Dan malam gelap pun kembali pekat, berjalan ia kembali dalam sunyi
dengan tertatih ia langkahkan kaki…menembus tirai ilusi
meski terkadang ia terjatuh lagi dan lagi… tanpa cahaya…
namun hatinya tahu bahwa cahaya itu ada..dan memaksa ia tuk merangkak…
meski terjatuh lagi…dan pada akhirnya ia harus merayap…
namun ia bersumpah tak kan berhenti hingga ajal menghampiri….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.